GAYATREND — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin cepat mengubah cara manusia bekerja, menjalankan bisnis, hingga mengambil keputusan.
Di tengah perkembangan tersebut, Indonesia dinilai tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi.
Kualitas sumber daya manusia (SDM) justru menjadi faktor penting untuk memastikan AI mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian.
Pandangan tersebut disampaikan Dr. Tan Hong Ming, Assistant Dean (Digital Operations) NUS Business School, dalam media roundtable di Jakarta, 18 Agustus 2026.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar berupa populasi dan bonus demografi, tetapi tantangan berikutnya adalah bagaimana mengubah jumlah tenaga kerja tersebut menjadi SDM yang semakin produktif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Teknologinya sudah ada. Pertanyaan besarnya kini: siapkah SDM kita mencetak nilai tambah dari AI?” ujar Dr. Tan.
AI Bukan Sekadar Menggantikan Pekerjaan
Perbincangan mengenai AI selama ini sering dikaitkan dengan kekhawatiran akan hilangnya lapangan pekerjaan.
Namun, Dr. Tan melihat perspektif tersebut perlu diperluas.
Menurutnya, AI seharusnya tidak hanya digunakan untuk menggantikan pekerjaan yang bersifat repetitif.
Teknologi ini justru dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan manusia dalam menyelesaikan persoalan yang lebih kompleks.
“Tujuan AI tak boleh cuma sebatas otomatisasi, melainkan peningkatan kapasitas,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya mengejar efisiensi biaya, tetapi juga memberikan ruang bagi karyawan untuk mengembangkan kemampuan, mengambil keputusan yang lebih baik, serta menciptakan inovasi baru.
Konsep inilah yang disebut sebagai human dividend atau bonus SDM unggul.
Jika bonus demografi selama ini lebih banyak dilihat dari besarnya jumlah penduduk usia produktif, era AI membuat kualitas, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting.
Tiga Langkah Membangun SDM AI Ready
Untuk mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan nyata, Dr.Tan menyebut setidaknya ada tiga investasi penting yang perlu dilakukan perusahaan maupun institusi.
Pertama adalah literasi AI. Karyawan perlu memahami bukan hanya cara menggunakan berbagai perangkat berbasis AI, tetapi juga bagaimana memanfaatkannya secara efektif untuk mendukung pekerjaan.
Kedua, diperlukan kepemimpinan yang mampu merancang ulang pola kerja. AI sebaiknya ditempatkan sebagai teknologi yang memperkuat peran manusia, bukan sekadar alat otomatisasi.
Ketiga adalah membangun budaya belajar berkelanjutan.Perkembangan AI yang sangat dinamis membuat keterampilan yang relevan saat ini dapat berubah dalam waktu relatif singkat.
Artinya, kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi sama pentingnya dengan kemampuan teknis menggunakan AI.
UMKM Punya Peluang Besar
Potensi pemanfaatan AI juga tidak hanya berada di perusahaan-perusahaan besar. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) justru dinilai memiliki peluang besar untuk memanfaatkan AI karena karakter bisnisnya yang relatif lincah.
Dekan NUS Business School, Profesor Teo Chung Piaw, mengatakan UMKM dapat bereksperimen dengan teknologi secara cepat dan menggunakannya untuk menjangkau lebih banyak konsumen tanpa harus meningkatkan biaya operasional secara signifikan.
“AI memberikan kesempatan bagi bisnis skala kecil untuk menghasilkan dampak besar dengan sumber daya yang efisien,” ujarnya.
Bagi pelaku UMKM, pemanfaatan AI dapat membuka berbagai peluang, mulai dari membantu membuat konten pemasaran, menganalisis perilaku konsumen, meningkatkan pelayanan pelanggan, hingga mendukung proses pengambilan keputusan bisnis.
Indonesia Punya Modal yang Kuat
Optimisme terhadap peluang AI di Indonesia juga didukung oleh tingginya penggunaan teknologi digital.
Data Microsoft Work Trend Index 2026 yang dikutip NUS Business School menunjukkan sekitar 33 persen profesional di Indonesia masuk kategori pengguna AI tingkat mahir, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di kisaran 16 persen.
Indonesia juga memiliki penetrasi internet sekitar 81 persen serta ekosistem kewirausahaan yang terus berkembang.
Kombinasi tersebut menjadi modal penting untuk memperluas pemanfaatan AI di berbagai sektor.
Namun, tantangan tetap ada.
Kesiapan teknologi dan SDM yang belum merata, keterbatasan infrastruktur digital, serta kesenjangan kemampuan antara perusahaan besar dan bisnis skala kecil masih menjadi pekerjaan rumah.
Karena itu, Prof.Teo menilai setiap proyek AI idealnya tidak hanya memiliki rencana implementasi teknologi, tetapi juga menyertakan rencana pengembangan SDM.
“Perusahaan jangan lagi memandang adopsi AI dan pengembangan SDM sebagai dua hal terpisah. Keduanya harus berjalan beriringan,” katanya.
Dari Dunia Pendidikan hingga Industri
Pengembangan SDM AI-ready juga membutuhkan kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah.
Menurut Prof. Teo, sekolah bisnis memiliki peran yang semakin luas di era AI.
Bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga mempersiapkan pemimpin yang mampu memahami teknologi, mengintegrasikannya ke dalam strategi bisnis, serta menerjemahkan riset menjadi solusi yang memiliki dampak ekonomi dan sosial.
Hal tersebut menjadi bagian dari agenda NUS Business School dalam memperkuat hubungan dengan pelaku usaha dan pemangku kepentingan melalui riset, pendidikan eksekutif, serta kemitraan industri.
Dalam kunjungannya ke Jakarta, NUS Business School juga membawa 55 peserta Executive MBA dari 15 negara dan 15 sektor industri dalam rangkaian overseas learning.
Agenda tersebut turut dirangkai dengan pertemuan alumni dan mahasiswa serta Alumni Founders Business Showcase yang menampilkan berbagai bisnis dan startup karya alumni di Jakarta dan Singapura.
Menentukan Jalan AI Indonesia Sendiri
Bagi Dr. Tan, Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun pendekatan AI yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter ekonominya sendiri.
Keunggulan di era AI, menurutnya, tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih.
Mereka yang mampu terus meningkatkan kemampuan manusianya justru memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.
“AI dan teknologi akan terus berkembang.
Keunggulan bersaing jangka panjang akan tercipta dengan terus meningkatkan kapabilitas SDM lewat AI,” tutup Dr.Tan.
Pada akhirnya, masa depan AI Indonesia bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi juga seberapa siap manusia di balik teknologi tersebut untuk belajar, beradaptasi, dan menciptakan sesuatu yang lebih bernilai.



