Health Lifestyle

Stroke Akut Pangkas Harapan Hidup Pasien hingga Sepertiga

GAYATREND.com – Hampir dua pertiga pasien stroke akut gagal bertahan hidup lebih dari satu dekade dan memiliki risiko kambuh yang tinggi, mendorong para peneliti menyerukan perawatan pasien yang lebih baik.

Peneliti University of Queensland (UQ) menganalisis data dari lebih dari 300.000 pasien yang dirawat di rumah sakit setelah stroke mendadak antara 2008 dan 2017 di Australia dan Selandia Baru.

Tim juga menyelidiki berapa tahun yang hilang akibat stroke dengan membandingkan perkiraan harapan hidup pasien dengan lamanya kelangsungan hidup yang sebenarnya.

Pemimpin studi dan ahli epidemiologi UQ, Dr. Yang Peng, seorang Peneliti di Unit Klinis Northside Rumah Sakit Prince Charles, mengatakan hanya 36,4% pasien yang bertahan lebih dari 10 tahun, dan 26,8% mengalami stroke kembali.

“Kami menemukan bahwa stroke mengurangi harapan hidup pasien rata-rata lima setengah tahun, dibandingkan dengan populasi umum,” kata Dr. Peng, seperti dikutip dari University of Queensland, Minggu (17/4/2022).

“Secara proporsional, ini berarti stroke mengurangi harapan hidup seseorang hingga sepertiga.”

“Pasien dengan stroke hemoragik yang mengalami pendarahan di otak memiliki risiko kematian yang lebih besar, stroke lain dan penurunan harapan hidup, dibandingkan dengan stroke iskemik, yang disebabkan pecahnya pembuluh darah.”

Stroke akut adalah salah satu penyebab paling umum rawat inap dan kecacatan di Australia dan telah dikaitkan dengan faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, peningkatan kadar kolesterol, diabetes, merokok, dan penyakit jantung oleh Stroke Foundation.

Rekan penulis studi, Dr. Kathryn Colebourne, seorang dokter umum dan stroke di The Prince Charles Hospital, mengatakan temuan ini memperkuat perlunya upaya bersama untuk meningkatkan perawatan stroke akut.

“Kita membutuhkan jaringan perawatan stroke untuk mengidentifikasi pasien yang mengalami stroke dengan cepat, memberi mereka akses ke perawatan penting dan sensitif terhadap waktu, seperti trombolisis, obat penghilang bekuan darah, dan terapi endovaskular, prosedur khusus untuk menghilangkan bekuan darah di pembuluh darah ke otak,” kata Dr. Colebourne.

“Kita juga membutuhkan unit stroke khusus untuk memberikan perawatan multidisiplin untuk pasien ini yang diketahui dapat mengurangi kematian dan kecacatan setelah stroke.”

Dr Peng mengatakan juga harus ada fokus pada gaya hidup dan modifikasi faktor risiko untuk pencegahan sekunder, mengingat jumlah pasien yang akan mengalami stroke berulang.

“Sangat sedikit studi populasi yang mengeksplorasi hasil stroke jangka panjang,” katanya.

“Informasi ini sangat penting bagi pasien untuk memahami prognosis mereka, dan bagi profesional kesehatan yang ingin meningkatkan perawatan stroke dan tindakan pencegahan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *