لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌۚ جَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗۗ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ
Sungguh, pada (kaum) Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka,) “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.”” (OS. Saba’ (34): 15)
GAYATREND — Cita-cita menjadikan Indonesia sebagai baladatun thayyibatun wa rabbun ghafur — negeri yang baik, makmur, dan dalam pengampunan Allah SWT — menjadi pesan utama yang disampaikan Ustazah Bahijah Hamid dalam berbagai kesempatan doa dan khataman Al-Our’an di Alhamd Carpet Radio Dalam.
Dalam tausiyahnya, ia menekankan bahwa kesejahteraan dan kesejahteraan bangsa tidak hanya bergantung pada kekuatan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga pada kekuatan spiritual yang dibangun melalui doa, shalat, dan istighfar.
Menurutnya, bangsa yang ingin kuat harus memiliki fondasi ruhani yang kokoh. Oleh karena itu, ia menggagas pentingnya munajat nasional yang melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan keberkahan bagi Indonesia.
la mengutip firman Allah SWT yang menganjurkan umat untuk memohon pertolongan dengan sabar dan shalat. Ayat tersebut, menurutnya, menjadi pedoman bahwa solusi atas berbagai tantangan bangsa harus disertai dengan pendekatan spiritual.
Munajat nasional yang maksudnya tidak terbatas pada satu lokasi atau kelompok tertentu. Ustazah Bahijah Hamid mendorong agar doa bersama dapat dilakukan di masjid, majelis taklim, lembaga pendidikan, hingga kantor pemerintahan dan swasta di seluruh daerah. Rangkaian kegiatan tersebut dapat diisi dengan khataman Al-Our’an, dzikir, istighotsah, sholawat, serta istighfar sebagai bentuk kesungguhan memohon perlindungan dari Allah SWT.
la juga mengingatkan bahwa Indonesia menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, diperlukan persatuan lahir dan batin agar bangsa tetap kokoh menghadapi perubahan zaman. Momentum doa bersama yang pernah digelar pada 17 Oktober 2025 bertepan dengan hari kelahiran Bapak Presiden Prabowo Subianto Hafidzahullah, menjadi salah satu contoh bagaimana munajat kolektif dapat menjadi simbol persatuan dan harapan.
Menurut Ustazah Bahijah Hamid, doa rakyat yang tulus akan menjadi cahaya bagi para pemimpin dalam mengambil keputusan serta menjadi pelindung bangsa dari berbagai musibah yang tidak diinginkan.
la berharap, dengan memperkuat doa dan kebersamaan spiritual, Indonesia benar-benar dapat menjadi negeri yang aman, tenteram, makmur, dan diridhai Allah SWT.




