Megapolitan

BPMA Bidik Dua Kontrak PSC Baru di Aceh Rampung Tahun Ini, Cadangan Gas Lhokseumawe Capai 900 BCF

GAYATREND – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menargetkan dua blok migas terminasi di Aceh dapat masuk tahap kontrak Production Sharing Contract (PSC) pada tahun ini. Salah satu blok yang dinilai paling prospektif yakni Blok Lhokseumawe diperkirakan memiliki potensi cadangan hingga 900 BCF gas.

Kepala BPMA, Nasri Djalal, mengatakan seluruh blok terminasi migas di Aceh kini telah mendapatkan minat investor dan sedang memasuki tahap joint study.

“Pencapaian penting lainnya adalah BPMA berhasil menarik minat investor terhadap seluruh blok terminasi yang ada di Aceh pada tahun ini,” ujar Nasri dalam ajang IPA Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (21/5).

Empat blok yang tengah diproses tersebut meliputi Andaman I, Lhokseumawe, South Block A, dan Meuseuraya.

Untuk Blok Andaman I eks terminasi Repsol, minat datang dari konsorsium Jepang yang terdiri dari Japan Petroleum Exploration dan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC).

Sementara itu, Blok Lhokseumawe diminati PT Energi Hijau Biru bersama Barakah Petroleum. Adapun South Block A diminati oleh BUMD Aceh, PT Pembangunan Aceh, sedangkan Blok Meuseuraya sedang menjalani joint study oleh PT Putra Indo Manunggal.

Nasri menjelaskan sebagian besar blok tersebut masih berada dalam tahap joint study karena merupakan blok terminasi eksplorasi. Namun BPMA menargetkan dua blok dapat langsung masuk tahap PSC tahun ini, sementara dua lainnya menyusul pada awal 2027.

“Untuk JPEC/JOGMEC misalnya, mereka sudah mulai sejak Maret lalu sehingga kami targetkan sekitar November prosesnya dapat selesai,” katanya.

Menurut Nasri, Blok Lhokseumawe menjadi blok yang paling siap untuk diteken kontrak PSC karena sebelumnya sudah hampir memasuki tahap pengembangan atau Plan of Development (PoD).

“Ketika terminasi dilakukan pada 2024, blok tersebut sudah berada pada tahap PoD, sehingga tinggal pembuktian cadangan melalui pengeboran lanjutan. Potensinya diperkirakan mencapai sekitar 900 BCF gas,” ujarnya.

Selain itu, BPMA juga mendorong revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh untuk memperluas kewenangan lembaga tersebut hingga 200 mil laut.

BPMA optimistis sinergi bersama SKK Migas akan memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu wilayah prospektif gas bumi nasional, terutama dengan munculnya sejumlah temuan offshore baru di wilayah Andaman yang diproyeksikan mulai berproduksi pada 2028–2029.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *