Lifestyle

IAA Gathering Akan Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Indonesia Terhadap Aromaterapi

GAYATREND.com – Indonesian Aromatherapy Association (IAA) Gathering yang diselenggarakan di Amoda Building Menteng ini menarik para peserta yang antusias terhadap aromaterapi, dengan menghadirkan pembicara-pembicara ahli yang sudah lama berkecimpung dalam dunia farmasi dan aromaterapi.

Pembicara yang hadir diantaranya adalah Direktur di Industri Farmasi, Ida Rahmi Kurniasih, Product Development Natura Scent Jovine M.Kurniawan, S.Si, Ketua Indonesian Aromatherapy Association Martsiano Wija Dirgantara, Pembina Indonesian Aromatherapy Association Prof. Dr. Mangestuti Agil, Sekjen Indonesian Aromatherapy Association Ibu Mona Sjukri dan Ketua Pelaksana Indonesian Aromatherapy Association Ibu Helga Sianturi.

Acara ini juga dihadiri oleh beberapa sponsor utama seperti CV. Xoso, Pavettia, Wiguja Indonesia, Montana Aromatics, Eteris, Distilleri, Bensan dan Neova.

IAA Gathering diselenggarakan untuk memperkenalkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan manfaat dari aromaterapi.

Ketua IAA, Pak Martsiano atau yang akrab dipanggil Ano, menyorot potensi besar industri aromaterapi di Indonesia. “Indonesia sudah lama menggunakan aromaterapi dalam berbagai bentuk, seperti minyak tawon, meskipun banyak orang yang belum menyadark bahwa itu adalah bagian dari aromaterapi. Tren pengobatan aromaterapi di Indonesia terus berkembang dengan munculnya berbagai varian baru aromaterapi dan penelitian yang aktif.” ujarnya.

Dalam wawancara, Ano menyoroti potensi besar industri aromaterapi di Indonesia. “Indonesia sudah lama menggunakan aromaterapi dalam berbagai bentuk, seperti minyak tawon, meskipun banyak orang belum menyadari bahwa itu adalah bagian dari aromaterapi. Tren pengobatan aromaterapi di Indonesia terus berkembang dengan munculnya berbagai varian baru dan penelitian yang aktif,” ujarnya.

Ano juga mengakui tantangan utama yang dihadapi industri ini adalah memasyarakatkan aromaterapi. Ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat bahwa minyak atsiri yang digunakan dalam aromaterapi aman, dan ke depan, profesi aromaterapis diharapkan bisa mendapatkan pengakuan yang lebih luas.

Ida Rahmi Kurniasih, seorang apoteker dan Direktur Industri Farmasi, juga turut berbicara dalam IAA Gathering. Ida yang juga merupakan praktisi dalam dunia farmasi, berbagi pengalamannya dalam membangun bisnis retail aromaterapi. Ia optimis dengan masa depan industri ini, mengingat Indonesia memiliki biodiversitas yang kaya dan tren kesehatan serta wellness yang terus berkembang.

“Industri aromaterapi di Indonesia sangat menjanjikan. Dengan sumber daya alam yang melimpah, kita bisa mengembangkan produk aromaterapi yang tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari masyarakat kita,” kata Ida. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara industri farmasi dan produsen aromaterapi dalam menciptakan produk yang aman dan efektif.

Ida menambahkan bahwa pengobatan holistik, yang menggabungkan terapi konvensional dengan aromaterapi, sudah mulai diterapkan di Barat dan bisa menjadi tren di Indonesia. “Kami berharap bahwa riset dan pengembangan dalam bidang ini terus didorong, agar aromaterapi dapat diterima oleh masyarakat dan regulator,” tutupnya.

Dengan kombinasi kepemimpinan yang kuat, riset yang berkelanjutan, dan kolaborasi antar industri, masa depan industri aromaterapi di Indonesia terlihat semakin cerah.

Selain itu, CV XOSO, sebuah perusahaan manufaktur yang fokus pada produksi essential oil, tampil sebagai sponsor utama dalam IAA Gathering. Dalam wawancara eksklusif, perwakilan dari CV XOSO mengungkapkan tujuan dan harapan mereka terkait dukungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang aromaterapi.

Menurut perwakilan CV XOSO, perusahaan ini sebelumnya lebih banyak mengekspor produk-produk mereka ke luar negeri. Namun, sejak pandemi COVID-19, mereka melihat adanya peningkatan signifikan dalam permintaan aromaterapi di pasar domestik. “Kami melihat banyak UMKM yang mulai bermunculan, terutama di sektor aromaterapi dan hand sanitizer. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mendukung UMKM lokal dengan harapan bisa menjadi bisnis-bisnis baru yang besar di Indonesia,” ujarnya.

Terkait potensi Indonesia untuk menjadi pelaku utama industri aromaterapi di dunia, CV XOSO optimis hal tersebut bisa tercapai. Namun, mereka menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah, terutama melalui regulasi yang jelas dan mendukung ekspor. “Jika kita memiliki regulasi yang mendukung seperti di China, di mana pemerintahnya sangat mendorong ekspor, kita pasti bisa menguasai pasar dunia,” tambahnya.

Mengenai strategi marketing untuk menarik pelanggan, perwakilan CV XOSO menekankan pentingnya segmentasi pasar. “Untuk pasar menengah ke atas, kualitas adalah yang utama, meskipun biayanya lebih tinggi. Sementara untuk pasar menengah ke bawah, harga yang lebih terjangkau menjadi faktor penting, namun tetap harus memperhatikan kualitas bahan alami yang digunakan,” jelasnya.

Sebagai perusahaan B2B (business-to-business), CV XOSO memilih untuk menjual produknya kepada bisnis lain tanpa memiliki merek sendiri. Mereka memberikan ruang bagi klien mereka untuk berinovasi dan memasarkan produk tersebut sesuai dengan kebutuhan pasar yang ada. “Pasarnya cukup besar untuk semua,” tutupnya.

Dengan dihadirkannya para pembicara ahli dan sponsor utama, IAA Gathering diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap aromaterapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *