Health

Perubahan Iklim Bikin Penyakit Bawaan Nyamuk Makin Mengkhawatirkan, Ini Langkah Pencegahannya

GAYATREND – Perubahan iklim yang semakin ekstrem berpotensi memperbesar risiko penyebaran penyakit yang ditularkan melalui nyamuk, termasuk malaria dan demam berdarah dengue (DBD).

Karena itu, upaya pencegahan seperti pengendalian populasi nyamuk, vaksinasi, hingga pengurangan emisi gas rumah kaca menjadi semakin penting untuk menekan beban penyakit bawaan nyamuk.

Hal tersebut terungkap dalam studi terbaru para peneliti Monash University yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances. Penelitian tersebut mengulas berbagai faktor ekologi, epidemiologi, serta sosial-ekonomi yang saling berkaitan dalam memengaruhi penularan malaria dan DBD.

Malaria merupakan penyakit serius yang disebabkan oleh infeksi parasit dan umumnya ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi.

Sementara itu, DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes betina yang terinfeksi.

Kasus Malaria dan DBD di Indonesia
Penyakit yang dibawa nyamuk masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di berbagai negara. Di Indonesia, kasus malaria dilaporkan meningkat 69 persen dalam dua tahun, dari sekitar 418.000 kasus pada 2023 menjadi 706.000 kasus pada 2025.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.

Pada 2025, DBD juga tercatat menyerang sekitar 161.937 orang, dengan angka kejadian mencapai 57,02 kasus per 100.000 penduduk.

Peneliti utama studi, Dr. Toby Cumming, ilmuwan dari Health and Climate Initiative, Monash School of Public Health and Preventive Medicine, mengatakan pemahaman terhadap berbagai faktor yang mendorong penularan penyakit menjadi kunci dalam menentukan respons kesehatan masyarakat.

Menurutnya, perubahan iklim menyebabkan peningkatan suhu serta perubahan pola curah hujan. Kondisi tersebut dapat memperluas wilayah yang sesuai bagi nyamuk Anopheles dan Aedes untuk berkembang.

“Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu dan pergeseran pola curah hujan, sehingga memperluas wilayah yang cocok bagi populasi nyamuk Anopheles dan Aedes untuk berkembang pesat,” ujar Dr. Cumming.

Namun, hubungan antara perubahan iklim dan penyakit bawaan nyamuk tidak selalu sederhana.

Pengaruh suhu dan curah hujan bersifat kompleks, tidak linier, dipengaruhi musim, serta dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Mengapa Malaria dan DBD Memiliki Tren Berbeda?
Menariknya, para peneliti menemukan adanya perbedaan perkembangan malaria dan DBD dalam jangka panjang.

Selama sekitar satu abad terakhir, ketika pemanasan global semakin nyata, kasus malaria secara umum mengalami penurunan. Sebaliknya, kasus demam berdarah justru menunjukkan peningkatan.

Faktor non-iklim turut menjelaskan perbedaan tersebut.

Associate Professor Henry Surendra dari Monash University, Indonesia, menaruh perhatian pada bagaimana perubahan lingkungan dan aktivitas manusia memengaruhi populasi nyamuk serta pola penyakit tular vektor di Indonesia.

“Upaya pengendalian nyamuk dan terapi pengobatan telah berhasil mengurangi penularan malaria secara signifikan. Namun, meningkatnya urbanisasi justru mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes, sehingga mempercepat penyebaran demam berdarah, yang hingga kini belum memiliki obat khusus,” ujar Henry.

Ia menambahkan, penelitian di Indonesia saat ini dilakukan bersama Kementerian Kesehatan Indonesia untuk mengidentifikasi faktor iklim, lingkungan, dan demografi yang berkaitan dengan kejadian malaria dan DBD di kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi di Kalimantan Timur.

Kasus Malaria Global Juga Masih Mengkhawatirkan
Meski tren malaria dalam jangka panjang menunjukkan penurunan, masyarakat tetap tidak boleh lengah.

Dr. Cumming mengungkapkan, jumlah kasus malaria secara global justru meningkat sekitar 8,5 persen dalam satu dekade terakhir.

“Tren kasus malaria belakangan ini dan lonjakan pesat demam berdarah sama-sama mengkhawatirkan. Kita harus meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan,” tegasnya.

Sejumlah inovasi pencegahan DBD pun mulai dikembangkan. Selain vaksin, terdapat strategi pengendalian vektor yang memanfaatkan bakteri Wolbachia.

Strategi ini dilakukan dengan melepaskan nyamuk Aedes yang membawa bakteri Wolbachia ke populasi nyamuk sehingga kemampuan nyamuk dalam menularkan virus dengue dapat ditekan.

Teknologi tersebut dikembangkan oleh World Mosquito Program, konsorsium nirlaba yang berafiliasi dengan Monash University.

Pada akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa menghadapi penyakit bawaan nyamuk membutuhkan pendekatan yang tidak bisa mengandalkan satu solusi saja.

Pengendalian vektor, vaksinasi, penguatan layanan kesehatan, pemantauan lingkungan, hingga upaya mengurangi emisi gas rumah kaca perlu dilakukan secara terkoordinasi untuk menghadapi risiko penyakit yang semakin kompleks akibat perubahan iklim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *