GAYATREND – Lagu Lingsir Wengi kembali menjadi inspirasi film horor Indonesia. Kali ini, LAB Pictures menghadirkan Lingsir Wengi: Motel Malioboro, film yang memadukan unsur budaya Jawa, misteri, dan kehidupan generasi digital. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 22 Oktober 2026.
Lagu Lingsir Wengi telah lama dikenal dalam khazanah budaya Jawa. Seiring waktu, lagu ini juga lekat dengan berbagai cerita misteri dan horor dalam budaya populer.
Melalui film terbarunya, LAB Pictures membawa elemen tersebut ke dalam kehidupan anak muda yang akrab dengan media sosial dan pembuatan konten digital.
Berawal dari Konten Horor, Berujung Teror Nyata
Lingsir Wengi: Motel Malioboro mengikuti kisah lima sahabat, yaitu Putik, Ryan, Aro, Anggie, dan Dita. Mereka mengelola kanal horor bernama DuniaHorror62.
Dalam upaya mengembangkan kanal tersebut, mereka melakukan penelusuran ke sebuah motel tua di kawasan Malioboro. Di tempat itu, mereka menemukan rekaman lagu Lingsir Wengi.
Awalnya, penelusuran tersebut menjadi bahan untuk membuat konten horor. Namun, rasa penasaran membawa mereka pada pengalaman yang jauh lebih mengerikan dari perkiraan.
Film ini kemudian memperlihatkan bagaimana ambisi menghasilkan konten dapat membawa seseorang melewati batas. Sesuatu yang awalnya hanya ingin direkam untuk kamera berubah menjadi teror yang harus mereka hadapi sendiri.
Lingsir Wengi Jadi Jembatan Budaya dan Dunia Digital
Sutradara sekaligus produser film ini, Adhe, melihat lagu Lingsir Wengi sebagai elemen budaya yang memiliki tempat tersendiri dalam ingatan masyarakat.
Menurutnya, lagu tersebut membuka ruang untuk mempertemukan warisan budaya dengan kehidupan anak muda masa kini.
“Lingsir Wengi memiliki tempat tersendiri dalam ingatan kolektif masyarakat, terutama dalam kaitannya dengan cerita misteri dan horor. Saya tertarik membawa elemen ini ke dalam konteks kehidupan anak muda yang akrab dengan dunia digital, sekaligus menjadikannya bagian dari perjalanan karakter dalam menghadapi pilihan dan konsekuensi mereka,” ujar Adhe.
Pendekatan tersebut membuat Lingsir Wengi: Motel Malioboro tidak hanya mengandalkan suasana menyeramkan. Film ini juga mengangkat kebiasaan generasi digital yang gemar merekam dan membagikan pengalaman kepada publik.
Di balik rasa penasaran para karakter, muncul pertanyaan tentang batas yang bersedia mereka lewati demi menghasilkan konten.
Mengangkat Persahabatan, Pengkhianatan, dan Keikhlasan
Produser eksekutif Elsaputra D. Justia, bersama Richard Suwandi, menyampaikan bahwa film ini mengangkat elemen budaya yang akrab bagi masyarakat melalui sudut pandang yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
“Melalui Lingsir Wengi: Motel Malioboro, kami ingin menghadirkan film yang tidak hanya menawarkan misteri dan ketegangan, tetapi juga memiliki kedekatan dengan kehidupan penonton, terutama generasi muda yang akrab dengan dunia konten digital,” ujar Elsaputra.
Ia berharap penonton dapat menikmati ketegangan sekaligus menemukan dinamika hubungan antarkarakter yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, produser Jason mengatakan bahwa cerita film ini juga berpusat pada hubungan antarmanusia. Persahabatan, pengkhianatan, petualangan, dan kisah cinta menjadi bagian dari perjalanan kelima karakter.
“Kami juga ingin mengangkat tema keikhlasan, tentang bagaimana seseorang belajar menerima kenyataan dan melepaskan sesuatu yang tidak lagi bisa dipertahankan,” ujar Jason.
Melalui perpaduan horor, budaya Jawa, dan kehidupan digital, Lingsir Wengi: Motel Malioboro menawarkan kisah yang tidak hanya berfokus pada teror, tetapi juga pilihan dan konsekuensi yang dihadapi para karakternya.
Film produksi LAB Pictures ini dibintangi oleh Ochi Rosdiana, Jeff Smith, Alif Rivelino, Yessica Tamara, Chelcy Clarissa, dan Vinessa Inez.
Lingsir Wengi: Motel Malioboro akan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.




