GAYATREND – Film horor-misteri Hasut resmi tayang di bioskop Indonesia mulai hari ini, Kamis, 8 Oktober 2026. Karya Tuta Films yang ditulis sekaligus disutradarai Ilya Sigma tersebut hadir menjelang peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day) pada 10 Oktober.
Tak sekadar menghadirkan ketegangan dan teror psikologis, Hasut mengajak penonton melihat lebih dalam tentang luka, trauma masa lalu, serta cara setiap orang menghadapi pengalaman yang membentuk kondisi mental mereka.
Film ini mengikuti perjalanan empat sahabat, yakni Vira (Karina Salim), Rere (Rachel Amanda), Dharma (Marthino Lio), dan Derry (Kevin Ardilova), yang mengikuti sebuah proses penyembuhan di tengah hutan.
Namun, situasi berubah ketika mereka mulai mendengar suara-suara hasutan melalui sebuah HT. Rasa takut perlahan muncul dan membuat keempatnya mulai saling curiga.
Di balik situasi tersebut, masing-masing karakter ternyata menyimpan luka dan ketakutan yang selama ini mereka pendam.
Salah satu kisah yang menjadi sorotan adalah hubungan kakak-adik Vira dan Rere. Keduanya sama-sama memiliki trauma akibat kehilangan orangtua, tetapi memilih cara berbeda untuk menghadapinya.
Vira berusaha menyembuhkan dirinya melalui berbagai prosesi hingga kemudian menjadi seorang healer. Sementara Rere justru cenderung menghindari dan menyangkal trauma yang dialaminya.
Keinginan Vira untuk membantu Rere kemudian berkembang menjadi persoalan lain. Tanpa sadar, Vira memaksakan proses penyembuhan yang menurutnya baik untuk sang adik.
Padahal, dalam penanganan orang dengan pengalaman langsung terkait kesehatan mental, proses penyembuhan tidak seharusnya dilakukan dengan paksaan.
Hal tersebut menjadi salah satu refleksi yang coba diangkat Hasut: niat untuk membantu seseorang belum tentu selalu menjadi bentuk pertolongan jika suara dan pilihan orang tersebut tidak didengarkan.
Rachel Amanda melihat karakter Rere sebagai sosok yang mudah mendapatkan penilaian negatif karena perilakunya.
“Rere ini kan digambarkan sebagai perempuan troublemaker, padahal itu coping mechanism-nya ketika dia memiliki luka ditinggal orangtua, masih ada grieving, tapi akan mudah untuk judge tanpa tahu apa yang sebenarnya dilewati Rere,” ujar Rachel Amanda.
Sementara itu, Ilya Sigma mengajak penonton mempertanyakan kembali batas antara membantu dan mengontrol orang lain.
“Di film ini saya juga ingin mengajak untuk berefleksi, bertanya mengenai bagaimana jika keinginan untuk menyelamatkan bisa berubah menjadi alat untuk memanipulasi dan mengontrol?” ujar Ilya Sigma.
Momentum penayangan Hasut yang berdekatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia menjadi kesempatan bagi penonton untuk melihat pengalaman kesehatan mental dari perspektif yang lebih manusiawi.
Film ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi luka. Karena itu, mendengarkan tanpa menghakimi menjadi bagian penting dalam memahami mereka yang sedang berhadapan dengan trauma.
Melalui perjalanan Vira, Rere, Dharma, dan Derry, Hasut tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga ruang untuk berefleksi tentang bagaimana luka masa lalu dapat memengaruhi hubungan, keputusan, dan cara seseorang menjalani kehidupan.
Film Hasut sudah tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.


